9.14.2017

Cuti

So, I've been considering to take some rest from social media, in my case, Instagram.

Istirahat dari media sosial gue rasa cukup diperlukan. Ada beberapa kali gue buka explore di Instagram dan tanpa sadar menghabiskan waktu tiga jam lebih untuk melihat kehidupan orang lain. Apalagi kalo pagi, kadang gak sadar, bangun langsung ambil hp, buka Instagram. Hal lain yang gue sadari ketika berselancar cukup lama di Instagram adalah... gue mulai tidak puas dan mencari cara bagaimana supaya feed gue rapi, supaya foto gue terkesan estetik, supaya foto gue banyak yang likes (really, I was once thinking about it). Gue mulai membandingkan kehidupan dengan orang lain.

Selain itu, gue tetap aja membuka Instastory di Instagram yang kadang gue pikir gak penting juga buat dilihat semua.

Intinya, pada satu poin gue merasa semua ini kurang baik. Waktu tidur gue kurang, kadang kerja aja masih bisa buka Instagram. Waktu yang begitu mahal dan gak bisa balik, harusnya gue alokasikan ke hal lain yang lebih berguna. Dan... jadi mencari pujian orang lain.

"Ah itu mah elo aja yang gak bisa ngontrol diri, Le."

Mungkin begitu.

Makanya gue sempat beberapa kali menon-aktifkan akun Instagram (dan tidak berlangsung lama). Sempat juga meng-uninstall Instagram dari ponsel untuk meminimalisir godaan cek-cek.

Tapi ya kembali lagi, ada kalanya gue perlu Instagram untuk mengetahui informasi tentang teman-teman dan kenalan.

Terlepas dari gak bisa kontrol diri, gue mungkin tetap ngecek Instagram via desktop, dengan harapan meminimalisir godaan mengecek hal-hal lainnya. Well, semoga gue dapat menggunakan waktu gue untuk hal lain yang lebih penting.

9.04.2017

5 Reasons Why We Must Go to National Gallery of Indonesia



Yeay, akhirnya kembali menulis, setelah sekian lama~

Tulisan kali ini akan dibuat menyerupai gaya tulisan artikel di media sosial akhir-akhir ini. 5 alasan kenapa kita harus pergi ke Galeri Nasional Indonesia~ *drum rolls* nomor 3 bikin netizen melongo *no, just kidding*

7.24.2017

'Remeh-Receh' Thing

I've once wrote this sentence in my timeline few months ago:
"God is working even in the small-remeh-receh-thing."
Kata receh semakin sering digunakan oleh orang-orang, namun penggunaannya mengalami pergeseran makna. Awalnya receh sering disebutkan ketika bicara tentang uang, namun sekarang masalah dan bercandaan ditambahkan kata receh di belakangnya untuk mengungkapkan kecilnya suatu hal.

Baiklah, di sini saya nggak membahas tentang pergeseran makna receh itu.

Ya, beberapa bulan lalu, saat menulis status demikian, saya dalam kondisi finansial yang memprihatinkan, sampai rasanya nggak mungkin bisa bertahan sampai tanggal gajian lagi tanpa pinjam uang dari orang tua :| Kondisinya sudah cukup memusingkan waktu itu.

Kemudian, tiba-tiba saya mendapat kontak dari seorang klien yang sudah cukup lama (sekitar 2-4 bulan) tidak ada kontak. Beliau kembali meminta tolong untuk menerjemahkan dokumen. Wow. Waktu itu saya benar-benar mengalami bahwa Tuhan memang luar biasa tahu kebutuhan anak-anakNya. So, praise the Lord! 😊😃

Another time... 

Ini terjadi waktu saya masih kuliah. Sistem perpustakaan di kampus mencatat bahwa saya belum mengembalikan sebuah buku Bahasa Korea yang pernah saya pinjam, padahal sudah saya kembalikan sejak seminggu sebelumnya. Lantas, saya disuruh petugas perpustakaan mencari buku tersebut di raknya untuk diproses kembali. Kurang beruntungnya, entah bagaimana buku itu belum ada di rak, di bagian sirkulasi pun tak ada, buku itu menghilang secara misterius, dan saya nyaris disuruh mengganti buku tersebut karena ketiadaannya. Waktu itu saya sempat kesal 😞 merasa ini bukan salah saya, kenapa harus saya yang ganti? Info aja, bukunya buku impor yang cari di toko buku lokal pun nggak ada, pas saya lihat di situs belanja online, harganya cukup untuk cetak hardcover skripsi saya kemarin dan belum termasuk ongkir dari Korea :")

Minggu demi minggu, saya dengan setia ke perpustakaan untuk mengecek status buku siluman tersebut. Hingga pada akhirnya, ketika sudah putus asa, saya sudah berniat pre-order buku tersebut, di akhir semester, saya iseng mengecek status peminjaman buku saya.

JENG JENG!

Status peminjaman buku saya, yang tadinya masih tercatat judul buku siluman itu, tiba-tiba sudah bersih begitu saja. Yeay! Berarti saya gak kena denda dan saya gak harus mengganti buku tersebut :") Bersamaan dengan itu, saya juga dapat kabar dari situs belanja online tempat saya memesan, bahwa buku tersebut sudah tidak diproduksi lagi sehingga pesanan saya tidak bisa diproses. Entah ini kebetulan atau bagaimana. Tapi, waktu itu saya merasa amazed sekali hahaha...

Yang paling baru...

adalah kasus limitasi akun PayPal saya.

Entah bagaimana akun PayPal saya terkena limit sehingga saya terancam tidak bisa menarik uang yang ada di dalamnya. This is a bad thing karena jumlah uangnya cukup besar dan statusnya masih ditahan. Fyi, kebodohan saya di sini adalah mencoba memverifikasi akun dengan menggunakan kartu kredit virual alias VCN. Saya sangat-sangat-sangat tidak merekomendasikan bagi teman-teman untuk melakukan hal ini. Beneran, kalau udah kena problem, ribet banget.

Akhirnya, saya mencoba mengirim email ke PayPal, curhat kenapa akun saya kena limit, kenapa saya nggak bisa memverifikasi kartu yang saya masukkan. Dan karena saya nggak sabaran, saya dengan impulsif membeli paket telepon keluar negeri (pusat kontak PayPal pakai nomor Singapura, btw) dan menelpon PayPal. Setelah curhat ternyata ada data yang salah saya masukkan dan mereka mau data tersebut dikirim ulang, baru bisa diproses kemudian. Oke, baiklah. Akhirnya saya membereskan data tersebut. Kemudian saya dapat kabar lagi melalui email kalo bank yang menerbitkan kartu (VCC) yang saya masukkan ke PayPal kemungkinan tidak mengotorisasi PayPal untuk membayar atau gimana... akhirnya telepon ke Bank BNI dan kembali curhat lagi soal VCN, dan kembali mbaknya bilang VCN memang tidak dianjurkan untuk digunakan di PayPal 😐 dan solusi satu-satunya adalah memohon PayPal memberikan solusi bagi masalah ini.

Sebenarnya, saya agak takut juga mengakui saya memakai VCC untuk PayPal karena ini mainannya uang dan saya takut disangka melakukan fraud (sejenis penipuan?) karena pake VCC untuk PayPal. Tapi, demi masalah selesai, akhirnya terpaksa kirim email, mengakui pakai VCC dan kemudian pasrah mau bagaimana solusinya.

Dan secara tiba-tiba, beberapa hari yang lalu, perwakilan PayPal di Indonesia menelpon, mencoba mendengarkan masalah, kemudian ia mengatakan bahwa saya akan dihubungi dari Malaysia atau Singapura dari bagian yang menangani limitasi akun. Agak lega, gak perlu nelpon ke sana hehe... Dan lega juga, nggak disangka melakukan penipuan karena pakai VCC haha...

Akhirnya sebuah nomor dari Malaysia menelpon sehari setelahnya, mereka mengatakan limitasi akun akan dicabut dengan menghapus VCC dalam akun tersebut. Saya lega luar biasa :") Another problem solved. Paketan telepon keluar negeri yang sudah saya beli akhirnya nggak terpakai :") (karena pas nelpon ke SG yang pertama kali lupa pakai kode sambungan jarak jauh, sehingga pulsa yang kepotong *kebodohan lagi*). Paketan itu akhirnya saya gunakan buat kontakan sama teman yang lagi belajar di Korea :") malah bisa kepake buat pelayanan :")

Ceritanya panjang dan berbelit ya? Hahaha...

Kemarin saya memikirkan tentang beberapa orang yang saya kenal, mereka punya kesempatan untuk belajar ke luar negeri secara gratis, ikut ini itu, ke mana-mana... tapi saya masih di sini-sini aja. Saat saya berpikir, "God, why don't You send me there? God, why don't I get the same chance to do that?"
But I realized maybe God bless me in this kind of small-remeh-receh thing, dalam kejadian-kejadian yang sudah gue ceritakan di atas. Mungkin buat beberapa orang, hal-hal itu receh banget, tapi buat gue, this is how He shows His love and inclusion.
From time to time, we may think that God only works in grandeur things, in things that look so grand and big, but now we know, He cares and works even for the smallest thing.
May this strengthened you as much as it has strengthened me.

7.09.2017

Bagi Nikmat


Long time no blog.
Padahal akhir-akhir ini sedang memiliki banyak perkara untuk dibagikan, tapi seringkali tertunda dan berujung jadi draf dalam otak. Kemudian pas buka blogspot, lupa mau nulis apa. Dengdeng.

Ya. Tema hari ini adalah berbagi. Kita mulai dengan beberapa hal sederhana di bawah ini.

"Eh, lo udah ke Gunung Bromo? Wah lo harus ke sana, bagus banget pemandangan matahari terbitnya."

atau,

"Kamu udah dengerin lagu barunya Coldplay? Mantaph jiwa."

lagi,

"Udah cobain ayam geprek yang lagi hits? Astaga, gue makan level sekian sampe jontor, tetap nikmat."

Kata-kata di atas tanpa sadar menjadi sebuah pembagian kenikmatan atau pengalaman yang dirasakan oleh kita dalam kehidupan sehari-hari. Kita gampang banget berbicara mengenai hal-hal yang kita sukai kepada orang-orang di sekeliling kita, tujuannya adalah supaya mereka dapat menikmati hal yang sama juga. Supaya kita pada akhirnya punya sesuatu yang sama untuk dibicarakan.

Lalu, kalau kau nikmati kasih Tuhanmu, sudahkah kau bagikan pada orang sekitarmu? Eng... gimana yah... jujur pertanyaan ini menjadi salah satu hal yang menusuk juga pada gue. Jumat kemarin, saat mengikuti persekutuan alumni, pembawa berita mengatakan, "Kita selalu mudah untuk berbicara akan hal-hal lain tetapi begitu mudah menahan pemberitaan Firman Tuhan."

Nah lho.

Kita punya beragam ketakutan, takut ditolak, takut gak pandai berkata-kata, takut dibilang sok suci, dan takut takut takut lainnya yang membuat kita enggan, seenggan-enggannya memberitakan kebenaran. Padahal, kita lagi menikmati kebenaran itu. Kebenaran akan keselamatan, kebenaran akan diangkatnya kita jadi anak-anak Allah, kebenaran akan kasihNya yang buat orang biasa bakal terkesan bodoh tapi buat orang yang percaya terkesan super duper luar biasa, dan kebenaran bahwa kita telah dibebaskan untuk jadi pemenang-pemenangNya.

Ini adalah kenikmatan yang menurut gue luar biasa banget. Kalau kita menikmati sesuatu, bukankah kita juga ingin membagikannya pada orang sekitar kita? Semakin nikmat, harusnya semakin ingin kita bagikan. Ya tak?

Semoga seluruh waktu yang kita miliki, jadi waktu untuk membicarakan Kristus.


Sebab aku tidak lalai memberitakan seluruh maksud Allah kepadamu.
(Kisah Para Rasul 20:27)

3.05.2017

소원

그냥
의심 없이
두려움 없이
아이처럼
용감하게
살아가고싶고
사랑하고싶습니다

2.20.2017

3rd Day in Xin Jia Po (Singapore): Don't Get Wet, Get Lost. [Part 2]


Setelah di cerita sebelumnya kami kehujanan begitu keluar dari Mustafa, gambaran makan kari di Little India sambil menikmati indahnya sinar mentari pun luntur #yha terhapus lebatnya hujan. Okay. I love you, rainy day! I really do, but not that day. Semoga kali lain ke SG hari cerah berawan tak mendung. For people like us who traveled by foot (a lot), rain is such a bother (really). Hujan angin yang payung pun kadang nggak cukup buat menghadang... lumayan juga kemarin sepatu dan baju jadi korban.

Kembali ke hari itu. Akhirnya kami beli mi instan dalam cup di minimarket terdekat (lagi) dan nyeduh di lobi hotel. Hujan masih setia turun di luar sana saat kami mulai berpikir, harus ke mana selanjutnya. Gitta mau pergi ke Orchard Road, belanja buat mamanya, dan gue? I didn't feel like going to Orchard. I don't really like crowd. I don't really like shopping. So, Orchard isn't my style. Akhirnya gue dan Gitta memutuskan buat pergi masing-masing. Gue bakal bosen banget buat menghabiskan sisa hari itu di hostel. It was such a waste to spend the rest of the day doing nothing, apalagi cuma karena hujan. Bobo cantik mah di rumah sendiri juga bisa. Jadi, gue akhirnya memutuskan untuk pergi ke Alexandra Road. I need to check on the location of the church I'll attend on the next day and after that, well... maybe back to the hostel or exploring Chinatown for a bit. Itu rencana gue sebelum gue naik MRT, dan apa yang terjadi setelahnya? Bacalah~

2.15.2017

3rd Day in Xin Jia Po (Singapore): Museum Tour & Chocolate Hunting [PART 1]

part of National Museum of Singapore
We started our third day a bit late. I haven't told you before that on the second day, we walked for more than 28.000 steps!!! Much... for people who rarely walk by foot in their own hometown lol. So, well, we felt a bit tired.

For the third day, we decided to pay Singapore City Gallery a visit once again and National Museum of Singapore. Also, we want to go to Little India area to buy souvenirs and lunch.