4.27.2015

tiba-tiba aku tidak lagi cinta pada malam dengan mendalam. pudar. aku tidak suka saat pagi menyambut. namun matahari seolah memberikan harapan dibanding hitamnya langit dan embun memberi wangi yang baik dibanding suara jangkrik. malam menjadi begitu menjemukan, walau aku tidak bisa menampik megahnya kilau bintang. pagi menjadi begitu menjanjikan, walau aku kembali diserahkan pada derap rutinitas. aku merindukan pagi, namun masih tidak bisa melepas jerat malam.

4.23.2015

malam menyimpan rahasia
tentang semesta, juga kita
tentang yang tidak terungkap dan terucap
tersudut dalam lubuk tergelap

selamat malam.
dari jakarta.

4.13.2015

Ada banyak hal yang malam sembunyikan
Di balik pekatnya permadani langit dan kemilaunya bintang
Ada banyak hal yang pagi bukakan
Tersurat dengan dinginnya embun dan mentari benderang
Rindu, cinta, kesempatan
Mati-matian kau sembunyikan
Walau semesta sebenarnya membisikkan

3.25.2015

an introvert's letter

in silence i found my company
sometimes i found my serendipity
sometimes too i found my glee
if i'm lucky i found my remedy

3.21.2015

autumn.

bergantung ia pada ranting
kuning, memerah, kemudian cokelat
dan ketika matamu berkedip
angin melenyapkan kekuatannya yang terakhir
menyapunya jauh
saksinya adalah langit biru tak bernoda
ditemani mentari hangat di pucuk sore

tak ada yang tahu
ke mana angin menghembusnya pergi
ia gugur dan mati
agar yang kemudian dapat hidup
dalam peluk musim semi

3.19.2015

Kelam tanpa berlian
Sepi tanpa sang dewi
Hitam terajut nyaris sempurna
Semburat ungu di ujung horizon
Simfoni alam sunyi tak berbisik
Angin berhembus tanpa suara
Seolah tersirat makna
kesunyian telah jadi jawaban lengkap

3.15.2015

Saya merasa marah padahal saya tidak berhak. Demikian yang saya rasakan saat melihat mereka satu persatu pergi, dari tempat yang sama, menuju ke tempat lainnya. Perpindahan itu masif, saya rasa. Perpindahan yang memisahkan, membedakan pola pikir satu sama lain, menimbulkan pertanyaan, kemudian berbuah pada pemahaman yang saya takut akan menyesatkan.

Kalian yang pernah membela mati-matian, kalian yang bahkan turut tertawa dalam ironi dan ikut bertanya saat orang lain melakukan perpindahan seperti yang kalian lakukan saat ini, ternyata sama saja, bukan?

Di ujung hari, aku malah ingin bertanya, sekarang siapa yang harus aku tertawakan? Orang tersebut? Atau kalian?