7.26.2015
Dilan
7.18.2015
Perjalanan
Aku sibuk bercumbu dengan segala rindu
Sembari menghitung waktu demi waktu
Kupeluk erat saja rindu itu
Dibiarkan tidak terucap dan tetap membisu
Sragen, 18 Juli 2015
Mungkin kita pernah berjumpa
Pada satu sore di satu masa
Mungkin kita tidak bertegur sapa
Karena tidak terbersit kita dapat saling menjadi makna
Mungkin dua pasang mata kita pernah saling beradu
Tapi delima masih terkekang oleh bisu
Mungkin... siapa yang tahu?
Mungkin kita pernah bertemu tapi mungkin tidak pernah saling tahu
Surakarta, 19 Juli 2015
7.06.2015
7.04.2015
6.30.2015
Petuah
6.24.2015
Marah yang Sia-sia
Gue sedang berkomunikasi dengan seorang teman yang sudah lama tidak gue temui. Dia termasuk teman diskusi gue yang paling asik sekaligus teman yang gue maksud dalam hal yang membuat gue marah itu hehe... ironis ya?
Gue menawarkan dia sebuah pelayanan pada awalnya dan ujung-ujungnya kita malah membahas hal yang paling sensitif (menurut gue) dan sebenarnya paling nggak mau gue bahas.
Ia awalnya berada dalam sebuah lingkungan yang sama dengan gue. Di mata gue, dia termasuk salah satu sosok yang berpengaruh di lingkungan awal ini. Sampai suatu kali, ia berkata bahwa ia akan keluar dari lingkungan ini. Bersamaan dengan keluarnya dia, keluar pula beberapa orang yang gue tahu cukup dekat dengan dia. Hal yang membuat gue marah adalah saat dimana dulu ia ikut mempertanyakan dan ikut membicarakan orang-orang yang keluar dari lingkungan ini. Dan ia berujung menjadi orang yang sama juga. Gue kecewa. Tapi mungkin kekecewaan gue hanya karena gue akan merasa ditinggalkan sendirian dengan hal-hal yang bermasalah ini.
Tapi, sejak semalam gue merenungkan, kemarahan gue ini sia-sia. Karena pada intinya, dia menyatakan bahwa saat ini dia sudah berada di lingkungan baru yang mampu membuatnya bertumbuh dan mampu membuatnya belajar lebih banyak dibandingkan di lingkungan awal kami. Ia bercerita kalo dia keluar dari tempat sebelumnya karena ia tidak bertumbuh dan tidak punya sosok untuk dipanut. Dan sejujurnya, gue lega mendengarnya. Ia keluar untuk sesuatu yang lebih baik. Kemarahan gue pun jadi sia-sia saja. Kemarahan gue padanya (dan pada mereka) tidak membawa gue lebih baik, malah membawa gue berpikiran negatif, bahkan sempet mikir yang bukan-bukan soal dia. Kemarahan gue tergantikan dengan kelegaan.
Gue sekaligus merasa ditegur juga. Gue cuma bisa marah tanpa bisa melampiaskannya pada hal-hal yang baik. Gue cuma bisa marah, tanpa bisa melihat secara objektif apa alasan seseorang melakukan sebuah hal. And He once again asked me back, "Masih mau marah-marah lagi padahal kamu tau temenmu sekarang keadaannya jauh lebih baik?"
--
6.22.2015
x
Buat saya kamu tetap misteri
Di balik malam jawaban tentangmu tersembunyi
Dan sayang pula tidak terjawab oleh datangnya pagi
Kadang kamu jadi orang yang kurindu setengah mati
Kadang kamu jadi sosok yang paling ingin kubenci
--
Jakarta, 22 Juni 2015
(ada pertemuan dan rindu yang harus ditunda, untuk menghidupkan rasa yang lebih besar lagi. Malam.)