Gue merasa amazed dengan kehidupan ini terkadang. Bulan lalu saat wisuda, gue ketemu dengan temen masa sekolah yang kuliah di tempat lain dan pertemuan kami benar-benar tanpa disengaja. Minggu lalu, gue mendapat kabar seorang teman SMA gue akan menikah minggu ini, orang yang paling nggak gue sangka-sangka juga. Terakhir, malam ini, gue kembali kaget mendengar kabar tentang teman SMA gue yang pernah duduk di depan gue.
Gue pernah juga menceritakan dia di sini. Dia adalah si A. Malam ini, gue menerima chat dari teman gue, G. Dia menyebut-nyebut nama si A. Gue pikir apakah si G sedang sama si A, dan A membajak ponselnya? Kemudian G menyebut, "A meninggal, Le."
Gue kicep.
"Yang bener?"
Pertanyaan yang pertama kali keluar dari mulut gue.
Usut punya usut, cari punya cari, kabar tersebut benar demikian adanya. Kecelakaan. Gue semakin kicep. Sebenarnya, niat gue malam ini adalah membuat conference chat dengan teman-teman, gue termasuk G, I, A, dan An. Mau ngajak mereka untuk bareng pergi ke pernikahan seorang teman SMA gue, si B. Apalagi gue dan si An baru berkomunikasi untuk ngajak si A pergi juga.
Tapi ternyata takdir memang harus berkata lain.
Gue dan A ini termasuk akrab saat SMA. Ketawa bareng, nangis bareng, mengenang cinta yang lama bareng, cerita-cerita dari yang paling bikin ngakak, paling bikin nangis, paling bikin kicep, pernah kita bagi bareng-bareng. A adalah orang yang memeluk gue dan yang gue suka dari si A adalah dia orang yang gak pernah milih-milih temen sehingga gue nyaman aja berkawan sama dia.
Kita terakhir kali makan bareng itu tahun 2012, awal kuliah. Sampai saat ini, gue dan A tidak pernah bertemu lagi. Chatting pun jarang. Gue inget, suatu hari si A pernah telepon pagi-pagi. Intinya ngajak gue cabut karena dia lagi males. Permintaan itu nggak bisa gue sanggupi karena siangnya gue ada kuliah dan harus siap-siap dari pagi. Gue memintanya main aja ke UI, Depok. Tapi toh hal itu tidak terlaksana. Gue nggak pernah chatting lagi sama dia sejak saat itu. Gue selalu berpikir untuk nge-chat sekali-kali tapi gue selalu mikir juga "Nanti ajalah. Lagi ada kerjaan lain.". Sampai pada malam ini, nanti ajalah itu gak akan bisa gue wujudkan lagi.
Gue selalu punya beragam kesempatan dan tiap-tiap hari untuk sekedar nanyain kabar dia, say hi, atau bahkan gue bisa dengerin curhatan dia. Dari kejadian ini, jujur gue belajar satu hal. Nggak ada kata terlambat dan nggak ada kata nanti untuk menjalin komunikasi. Apalagi dengan kawan lama yang sudah kayak saudara lo sendiri.
When you have to say hi, just say it. When you can love, just love. When you can listen, just listen. Before it's too late and you'll never get the chance again.
Selamat jalan, sobat. Lo tau gue akan selalu kangen sama lo, gue kangen juga buat dipeluk dan meluk elo. Semoga kita bisa berpelukan lagi pada satu ketika.
9.28.2016
9.26.2016
Berlari Kembali
Sejujurnya ini bukan pertama kalinya gue mendapat ayat Matius 11:28 dalam perenungan Alkitab. Berulang kali gue udah dapet ayat dari Matius 11:28. Bahkan saat masih sekolah dulu, ayat tersebut menjadi salah satu bagian Alkitab yang paling gue inget.
Ketika gue sedang lelah-lelahnya, tentu gue mencari penghiburan. Gue main game di ponsel gue. Gue nonton drama. Gue nonton apapun yang bisa bikin gue tertawa. Hingga akhirnya waktu gue pun habis untuk hal-hal tersebut. Gue nyaris seminggu nggak pegang gitar, gue nyaris seminggu juga gak buka buku apapun. Kemudian, permasalahan mulai muncul ketika gue mengabaikan beberapa tanggung jawab yang seharusnya gue lakukan.
Oke, kondisi ini adalah latar belakang gue menulis post ini malam ini. Gue sudah berjanji ketika mendapat satu hal untuk dibagikan, maka gue gak akan menunda-nunda menulis. Jadilah gue tulis.
Pagi ini, ketika di jalan menuju kantor, gue mendapatkan ayat yang sudah gue kutip di atas. Gue terdiam dan berpikir. Berapa seringkah ketika lelah gue mencari Tuhan? Ketika Dia menjadi satu-satunya pemberi kelegaan, kenapa gue harus mencarinya dari dunia yang memberi lega hanya sementara? Kehidupan gue yang memang sedang melelah-lelahkannya ini mungkin jadi satu hal yang mau Tuhan kasih lihat buat gue, satu jalan bagi gue untuk kembali duduk bersama dengan Dia dan menikmati kelegaan yang Dia berikan. Istirahat yang Dia berikan.
Ketika kita berlari padaNya, menerimaNya dengan segala kerendahan hati, di situ kita diberikan kelegaan, menyadari bahwa dalam kehidupan dengan segala hal melelahkan di dalamnya, kita gak akan bisa berjalan tanpaNya.
Marilah kepada-Ku semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.Sesungguhnya, kehidupan gue tidak berjalan semulus itu akhir-akhir ini. Lelah karena pekerjaan di kantor, ada pekerjaan lain yang harus dilakukan di rumah, ada relasi dengan orang-orang yang harus dijaga, pelayanan... dan beban pikiran lainnya yang tidak bisa gue utarakan. Bukannya mau menyombongkan diri bahwa gue orang sibuk atau apa... tapi gue sungguh-sungguh merasa kegiatan yang gue lakukan di atas adalah kegiatan mekanis. Gue pergi pagi hari, pulang malam, pekerjaan rumah dikerjakan sampai larut, tidur, bangun pagi, begitu lagi. Untuk duduk menikmati kesendirian dan "me & Him" time aja rasanya udah terlalu lelah. Gue tidak menikmati lagi apa yang dahulu sering gue lakukan sebelum berangkat kuliah.
Ketika gue sedang lelah-lelahnya, tentu gue mencari penghiburan. Gue main game di ponsel gue. Gue nonton drama. Gue nonton apapun yang bisa bikin gue tertawa. Hingga akhirnya waktu gue pun habis untuk hal-hal tersebut. Gue nyaris seminggu nggak pegang gitar, gue nyaris seminggu juga gak buka buku apapun. Kemudian, permasalahan mulai muncul ketika gue mengabaikan beberapa tanggung jawab yang seharusnya gue lakukan.
Oke, kondisi ini adalah latar belakang gue menulis post ini malam ini. Gue sudah berjanji ketika mendapat satu hal untuk dibagikan, maka gue gak akan menunda-nunda menulis. Jadilah gue tulis.
Pagi ini, ketika di jalan menuju kantor, gue mendapatkan ayat yang sudah gue kutip di atas. Gue terdiam dan berpikir. Berapa seringkah ketika lelah gue mencari Tuhan? Ketika Dia menjadi satu-satunya pemberi kelegaan, kenapa gue harus mencarinya dari dunia yang memberi lega hanya sementara? Kehidupan gue yang memang sedang melelah-lelahkannya ini mungkin jadi satu hal yang mau Tuhan kasih lihat buat gue, satu jalan bagi gue untuk kembali duduk bersama dengan Dia dan menikmati kelegaan yang Dia berikan. Istirahat yang Dia berikan.
Ketika kita berlari padaNya, menerimaNya dengan segala kerendahan hati, di situ kita diberikan kelegaan, menyadari bahwa dalam kehidupan dengan segala hal melelahkan di dalamnya, kita gak akan bisa berjalan tanpaNya.
9.16.2016
Pernah Marah?
Setelah kemarin gue merasa tidak punya bahan untuk ditulis, pagi ini, gue mendapatkan bahan untuk ditulis, pada akhirnya. Praise Lord.
Sebenarnya, semua bermula dari kejadian di hari Sabtu minggu lalu ketika seseorang (selanjutnya disebut X) mengingkari janji. Intinya kami beberapa hari sebelumnya berjanji dan membuat rencana untuk hari Sabtu, tetapi pada hari Sabtu yang sama, X harus melaksanakan hal lain, dan gue baru tahu. Sebagai salah satu pihak yang sangat menantikan dan menginginkan kenyataan berjalan mulus sesuai rencana, gue kecewa. Gue bersikap ketus ketika membalas pesan singkat dari si X. Alternatif lain yang ditawarkan si X pun gue tolak, juga dengan ketus. Gue merasa, "Gue tuh nggak berhak lo perlakukan seperti ini. Kalau janji ya tepati dong." demikian yang gue pikirkan saat itu. Pada akhirnya, mungkin X pun kesal juga sama gue, ya sama-sama kesal, sama-sama dingin. Satu hari itu pun gue bad mood.
Kejadian lain yang membuat gue menulis post ini terjadi hari Kamis pagi. Ada satu hal yang kurang gue sukai untuk lakukan, tapi harus gue lakukan, tanpa diberitahu atau ditanyakan dulu apakah gue mau melakukan hal tersebut. Ya pasti gue akan menjawab tidak mau. Tapi seandainya orang yang menyuruh gue melakukan itu bertanya dulu, mungkin gue gak akan melakukannya dengan bersungut-sungut, dan sampai marah. Gue marah karena merasa "Gue punya pendapat, kenapa nggak tanya pendapat gue dulu sih? Gue gak suka melakukan hal itu!", pikir gue lagi. Kemudian sepagi itu, gue kesal, rasanya gak ada satu pun hal yang benar yang gue lakukan. Tidak ada damai sejahtera ketika gue tiba di kantor pagi itu. Kemudian, hal itu berujung pada ketusnya dan dinginnya gue dalam menanggapi pesan-pesan singkat yang datang. Karena marah, ya.
Syukurlah, semuanya kini sudah teratasi.
Kalau gue kilas balik, sebetulnya alasan si X mengingkari janji harusnya bisa gue terima dengan pikiran terbuka dan hati yang lapang. Gue nggak perlu semarah itu sampai ketus dan dingin menanggapi pesannya karena mengikuti rasa kecewa dan kemarahan dalam hati gue. Sebetulnya kejadian di Kamis pagi pun harusnya gue syukuri karena hal yang gue terpaksa lakukan itu sebetulnya bisa membuat gue jadi pribadi yang lebih berani dan bisa menolong orang lain. Gue nggak perlu mengeluarkan kata-kata yang dingin kepada orang yang gue kasihi untuk memuaskan amarah gue.
Ketika amarah menguasai diri kita, kita jadi nggak bisa memancarkan apa yang harusnya kita pancarkan--kasih. Kita kebanyakan mengikuti perasaan marah kita dengan ketus, dengan dingin, merasa berhak untuk tidak diperlakukan demikian oleh pihak lain... hingga tanpa sadar ada pihak-pihak yang mungkin tersinggung dan tersakiti karena kita mengikuti emosi itu. Gue teringat cerita Kain dan Habel, ketika Tuhan mengindahkan persembahan Habel, dan Kain menjadi marah karena hal tersebut. Gue tidak tahu apa yang ada di benak Kain pada saat itu. Apakah ia merasa berhak untuk diindahkan persembahannya oleh Tuhan? Apakah ia merasa jerih lelahnya tidak dihargai sehingga ia marah? Gue pun tidak tahu. Juga belum memahami kenapa Tuhan bertindak demikian. Akan tetapi, satu poin yang gue dapat dari cerita ini, Kain yang marah kemudian membunuh Habel. Kemarahan bisa menuntun kita untuk melakukan dosa.
Ayat Alkitab yang menjadi perenungan gue pada pagi hari ini adalah Yakobus 1:20
Sulit memang untuk nggak marah saat kita dibuat kecewa, karena itu tiap saat kita butuh Dia untuk melembutkan hati kita supaya dapat menunjukkan belas kasihNya sebagai ganti amarah...
Sebenarnya, semua bermula dari kejadian di hari Sabtu minggu lalu ketika seseorang (selanjutnya disebut X) mengingkari janji. Intinya kami beberapa hari sebelumnya berjanji dan membuat rencana untuk hari Sabtu, tetapi pada hari Sabtu yang sama, X harus melaksanakan hal lain, dan gue baru tahu. Sebagai salah satu pihak yang sangat menantikan dan menginginkan kenyataan berjalan mulus sesuai rencana, gue kecewa. Gue bersikap ketus ketika membalas pesan singkat dari si X. Alternatif lain yang ditawarkan si X pun gue tolak, juga dengan ketus. Gue merasa, "Gue tuh nggak berhak lo perlakukan seperti ini. Kalau janji ya tepati dong." demikian yang gue pikirkan saat itu. Pada akhirnya, mungkin X pun kesal juga sama gue, ya sama-sama kesal, sama-sama dingin. Satu hari itu pun gue bad mood.
Kejadian lain yang membuat gue menulis post ini terjadi hari Kamis pagi. Ada satu hal yang kurang gue sukai untuk lakukan, tapi harus gue lakukan, tanpa diberitahu atau ditanyakan dulu apakah gue mau melakukan hal tersebut. Ya pasti gue akan menjawab tidak mau. Tapi seandainya orang yang menyuruh gue melakukan itu bertanya dulu, mungkin gue gak akan melakukannya dengan bersungut-sungut, dan sampai marah. Gue marah karena merasa "Gue punya pendapat, kenapa nggak tanya pendapat gue dulu sih? Gue gak suka melakukan hal itu!", pikir gue lagi. Kemudian sepagi itu, gue kesal, rasanya gak ada satu pun hal yang benar yang gue lakukan. Tidak ada damai sejahtera ketika gue tiba di kantor pagi itu. Kemudian, hal itu berujung pada ketusnya dan dinginnya gue dalam menanggapi pesan-pesan singkat yang datang. Karena marah, ya.
Syukurlah, semuanya kini sudah teratasi.
Kalau gue kilas balik, sebetulnya alasan si X mengingkari janji harusnya bisa gue terima dengan pikiran terbuka dan hati yang lapang. Gue nggak perlu semarah itu sampai ketus dan dingin menanggapi pesannya karena mengikuti rasa kecewa dan kemarahan dalam hati gue. Sebetulnya kejadian di Kamis pagi pun harusnya gue syukuri karena hal yang gue terpaksa lakukan itu sebetulnya bisa membuat gue jadi pribadi yang lebih berani dan bisa menolong orang lain. Gue nggak perlu mengeluarkan kata-kata yang dingin kepada orang yang gue kasihi untuk memuaskan amarah gue.
Ketika amarah menguasai diri kita, kita jadi nggak bisa memancarkan apa yang harusnya kita pancarkan--kasih. Kita kebanyakan mengikuti perasaan marah kita dengan ketus, dengan dingin, merasa berhak untuk tidak diperlakukan demikian oleh pihak lain... hingga tanpa sadar ada pihak-pihak yang mungkin tersinggung dan tersakiti karena kita mengikuti emosi itu. Gue teringat cerita Kain dan Habel, ketika Tuhan mengindahkan persembahan Habel, dan Kain menjadi marah karena hal tersebut. Gue tidak tahu apa yang ada di benak Kain pada saat itu. Apakah ia merasa berhak untuk diindahkan persembahannya oleh Tuhan? Apakah ia merasa jerih lelahnya tidak dihargai sehingga ia marah? Gue pun tidak tahu. Juga belum memahami kenapa Tuhan bertindak demikian. Akan tetapi, satu poin yang gue dapat dari cerita ini, Kain yang marah kemudian membunuh Habel. Kemarahan bisa menuntun kita untuk melakukan dosa.
Ayat Alkitab yang menjadi perenungan gue pada pagi hari ini adalah Yakobus 1:20
sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah. (Terjemahan Baru)
Orang yang marah tidak dapat melakukan yang baik, yang menyenangkan hati Allah. (BIS)Ketika gue membaca ini, gue kembali mengingat saat-saat gue pernah marah kepada orang-orang di sekitar gue. Gue seringkali bersikap ketus dan mungkin mengeluarkan kata-kata tajam yang sudah melukai hati mereka. Padahal, seringkali gue bikin Tuhan marah, dosa lagi dosa lagi, tapi lebih sering lagi Dia menunjukkan belas kasihNya buat gue. Gue percaya bahwa ketika Dia sudah menunjukkan belas kasih, membuat gue menerima belas kasih, itulah hal yang harusnya terpancar dari diri gue untuk orang lain, bahkan ketika gue dibuat kecewa atau dibuat marah oleh orang lain, karena itulah yang menyenangkan hatiNya.
Sulit memang untuk nggak marah saat kita dibuat kecewa, karena itu tiap saat kita butuh Dia untuk melembutkan hati kita supaya dapat menunjukkan belas kasihNya sebagai ganti amarah...
Refleksi
Tulisan gue terakhir kali ditulis dan dipublikasikan pada tanggal 29 Juli. Sudah lebih dari sebulan. Sebenarnya gue banyak menulis di draf blog tapi karena tiba-tiba mengalami writer's block, kebanyakan tulisan itu tidak berbuah jadi satu post utuh. Kemudian gue menyesal karena tulisan-tulisan setengah jadi itu harus berakhir begitu saja, semi-nyampah, dan gue pun lupa sudah tujuan awal kenapa gue menulis draf dan apa yang sebenarnya mau gue bagikan. Sebetulnya, ini termasuk pelajaran buat gue juga. Gue bilang gue suka menulis tapi ternyata gue gak pernah menyempatkan waktu untuk menyelesaikan tulisan. Gue pernah janji mau bahas soal skripsi gue untuk jadi tulisan di blog, review film atau sejenisnya, namun semua pun berakhir jadi wacana tak terlaksana. Bahkan gue pun belum jadi mau buat post pascawisuda untuk sekedar berbagi kebahagiaan.
Sepertinya gue sekarang harus benar-benar menulis ketika punya waktu dan benar-benar menulis dari awal hingga akhir.
Dan... selamat, kita telah tiba di bulan September (lagi). Gue tadi sempat melirik draf-draf di blog dan gue tersenyum ketika menemukan sebuah post yang gue tulis pada tanggal 15 September 2015. Itu hanya sebuah tulisan gue yang sedang pusing memikirkan soal tugas di kelas Bahasa Itali yang gue ambil kemudian juga kegalauan menulis proposal skripsi. Setahun begitu cepat berlalu rupanya. Kemudian di sinilah gue saat ini, jadi semi-karyawan di sebuah perusahaan swasta, kalo kata dia, mengabdi pada dunia hahaha... Gue saat ini bekerja sebagai penerjemah di sebuah bakal perusahaan webtoon. Well, penerjemahan gue rasa selalu jadi passion gue, hanya saja, gue berpikir bahwa ada hal lain yang perlu gue capai. Entah kapan dan entah bagaimana caranya.
Sepertinya gue sekarang harus benar-benar menulis ketika punya waktu dan benar-benar menulis dari awal hingga akhir.
Dan... selamat, kita telah tiba di bulan September (lagi). Gue tadi sempat melirik draf-draf di blog dan gue tersenyum ketika menemukan sebuah post yang gue tulis pada tanggal 15 September 2015. Itu hanya sebuah tulisan gue yang sedang pusing memikirkan soal tugas di kelas Bahasa Itali yang gue ambil kemudian juga kegalauan menulis proposal skripsi. Setahun begitu cepat berlalu rupanya. Kemudian di sinilah gue saat ini, jadi semi-karyawan di sebuah perusahaan swasta, kalo kata dia, mengabdi pada dunia hahaha... Gue saat ini bekerja sebagai penerjemah di sebuah bakal perusahaan webtoon. Well, penerjemahan gue rasa selalu jadi passion gue, hanya saja, gue berpikir bahwa ada hal lain yang perlu gue capai. Entah kapan dan entah bagaimana caranya.
7.29.2016
Rejected and Alone
Hari ini, setelah mendapat kabar yang membuat gue kecewa dan merasa "Well, siapalah gue, bukan orang penting, dan juga tidak spesial.", pada saat itu, tanpa terduga terputar sebuah lagu yang sudah sering didengar orang. Above All. Gue terpana pada bagian liriknya yang berbunyi:
You lived to die
Rejected and alone
Like a rose trampled on the ground
You took the fall
and thought of me
Above all
Man. He is rejected and alone. Yet, He still took the fall and put the thought of me, above all. Gue nggak bisa ngebayangin seandainya Ia menolak untuk ditolak dan ditinggalkan sendirian, seandainya Ia menolak untuk mengosongkan diriNya supaya bisa menyelamatkan manusia...
Perenungan gue adalah bahwa Ia yang adalah Anak Allah pun ditolak, ditinggalkan, dan Ia tidak mengeluh. Padahal Ia jauh lebih tinggi stratanya dari gue. Dia mungkin nggak ngerasa diriNya perlu diperlakukan secara spesial saat ada di dunia tapi Ia justru menaruh pikiran tentang manusia di atas segala hal dan memikul salibNya. This is beautiful and strengthened my heart. Siapa gue harus diperlakukan spesial dan mementingkan diri sendiri? Mengingat diriNya pun ditolak dan sendirian.
Ada sebaris lirik lagu yang membuat hati gue tercekat saat retreat di awal bulan Juli yang lalu, lirik itu berbunyi:
Tuhan b'rilah penghiburan, itu cukup bagiku,
mengenang Tuhan di dunia, lebih piatu dariku.
7.23.2016
Sebelum Makan Es Campur
"Kita harus berdoa sebelum makan."Gue tersenyum ketika mendengar kalimat ini dari seorang adik perempuan di Sekolah Minggu siang tadi. Menu kami bukan makanan berat, cuma snack bernama es campur, tapi dia melipat tangan, menutup mata, dan berdoa.
Melihatnya berdoa, gue tiba-tiba terpikir, berapa banyak dari kita yang berdoa dan mengucap syukur untuk hal-hal kecil macam es campur? Berapa banyak dari kita yang mengucap syukur sebelum menyantap snack macam pisang goreng atau bolu kukus? (jadi laper...)
Gue pribadi mengakui bahwa seringkali gue tidak terpikir untuk melipat tangan dan menutup mata dan berdoa sebelum makan pisang goreng atau es campur hari ini. Boro-boro sikap berdoa, rasanya bilang terima kasih aja semacam kalau ingat. Waduh, jangan-jangan gue sudah menyepelekan berkat sekecil apapun dari Dia.
Gue teringat tentang kisah lima roti dan dua ikan dalam Alkitab. Menu makan hari itu sederhana pun sedikit, hanya roti dan ikan tapi hal yang dilakukan Tuhan Yesus adalah "...Yesus mengambil roti itu, mengucap syukur dan membagi-bagikannya..." (Yohanes 6:11 TB). Ia tetap mengucap syukur atas apa yang tersedia walau kecil dan sederhana.
Gue merasa tertegur. Demikian pula yang sering terjadi dalam kehidupan kita. Saat ada hal-hal kecil yang kita dapatkan, berkat-berkat kecil yang menurut kita sepele, kita jadi lupa untuk bilang "Terima kasih Tuhan untuk berkatnya.". Kita lebih sering berfokus pada berkat-berkat Tuhan yang lebih besar dan terkesan grand, big, beautiful. Kadang dikasih berkat besar aja udah keburu bahagia dan lupa mengucap syukur. Kita tahu dan kita percaya juga bahwa Tuhan bekerja dalam segala hal, baik kecil maupun besar, sesederhana apapun atau sebesar apapun, ada tanganNya yang menyertai dan memberkati.
Entah itu es campur atau nasi padang, entah itu pisang goreng atau gurame bakar, He gave it for us to enjoy His bless and goodness.
"Mengucap syukurlah dalam segala hal..." --1 Tesalonika 5:18
6.19.2016
Kata Pengantar (Tidak Resmi)
Tuhan beserta dengan kamu bilamana kamu beserta dengan Dia. (2 Tawarikh 15:2)
--
Tetapi kamu ini, kuatkanlah hatimu, jangan lemah semangatmu, karena ada upah bagi usahamu. (2 Tawarikh 15:7)
--
Gue menulis dua ayat Alkitab tersebut berbulan-bulan lalu di dinding, ketika gue sedang galau-galaunya mengerjakan skripsi. Baca buku tidak membantu, mau nulis nggak punya inspirasi, dan nonton film yang menjadi objek penelitian gue pun tidak membantu. Kesibukan gue bertambah dengan kerja paruh waktu sehingga gue nggak bisa sering-sering ke kampus dan bertemu dosen pembimbing. Gue sampai berpikir apakah gue bisa sidang semester ini, apakah yang akan terjadi kalau ternyata gue sampai harus menambah satu semester lagi? Pokoknya stagnan sekali rasanya skripsi ini.
Jeleknya gue adalah kalau sudah lelah, gue akan lari. Gue berlari ke pekerjaan gue, gue tidur banyak-banyak, gue makan, pokoknya ada masa gue tidak menulis skripsi sampai satu atau dua minggu. Tapi gue tahu Tuhan nggak mau domba bandel satu ini menyerah. Maka Ia bukakan ayat tersebut pada gue dan ya, ada semangat lagi, somehow I feel my heart said, "Le, mau sampai kapan santai-santai? Ada upah, Le. Perjuangan kamu nggak akan sia-sia." Kalimat itu menampol gue sehingga gue kembali memulai, walau ada saat ketika gue jatuh lagi, males lagi, tapi toh akhirnya gue akan kembali bangkit, mengingat Ia ngasih kekuatan untuk gue kembali berjalan.
Lalu, terjadilah hari paling mendebarkan nomor sekian dalam hidup gue, yaitu 14 Juni 2016. Penentuan apakah nama gue akan tambah berat atau tidak haha... Hasilnya... Puji Tuhan... nama dan kewajiban tambah berat hehe... Nilai yang diberikan juga sesungguhnya tidak sepadan mengingat kemalasan gue dan kesibukan gue sehingga waktu gue tidak tercurah untuk si tugas akhir, tapi mungkin inilah yang Tuhan perbolehkan terjadi :")
Jadi, post hari ini akan gue dedikasikan untuk orang-orang yang telah mendukung gue dengan doa, dengan datang di hari sidang, dan dengan cara apapun :") Nama-nama mereka tidak mungkin cukup dimuat dalam kata pengantar yang akan gue tuliskan untuk skripsi gue :")
- Adek. Terimakasih untuk pelukan, kasih, semangat, doa, sarannya yang lucu, sampai lawakannya seminggu sebelum gue sidang, "Cici, kamu salah apa sampai harus disidang?" :")
- Papy Mamy. Terimakasih Papy yang sudah jemput malam-malam setiap kali Cici habis skripsian di kampus atau di tempat lain, terimakasih Mamy sudah menyuplai makanan supaya Cici punya tenaga dan terutama terimakasih untuk doa, dukungan, semangat, dan sarannya untuk membuat skripsi yang walau susah dan pernah saya sesali untuk ikuti, but thank you.
- Tim #TidakAda16MeiTahunIni alias geng skripsi 2012: Imam, teman sepenantian gue yang murah dan baik hatinya, Kak Inta, yang selalu dicurhatin setiap ada masalah akademis maupun kegalauan non akademis, Redita, si anak ambis yang sudah bimbingan dari semester enam, Ana, teman galau akademis maupun non akademis, Diana, Unun, Bunga, Olla, Deni, Shasha, Kak Mei, Nenek, pihak-pihak yang sudah jadi teman kaget bersama selama masa penulisan, dan untuk Devina, semoga sehat selalu dan tetap semangat! Kami mendukungmu! :)
- Kelompok Wanita Tegar: Fionna, yang menjelang sidang gue kirimin PPT dan VN latihan presentasi supaya dikasih saran :"), Gitta, yang menemani dan mendandani, makasih green tea-nya dan dandan gratisnya :"")), Shofi si anak sibuk yang sudah menyemengati untuk tetap tegar. Plus Redita yang sudah disebut di atas.
- Lely, sobatku yang juga sedang membuat tugas akhir dan akan segera sidang, terimakasih udah mendoakan dan menyemangati, mendukung dan selalu jadi teman diskusi malam-malam. Untuk Jason, Pak Yus, dan dedek-dedek yang sempet main ke UI di saat gue lagi mentok-mentoknya mikirin skripsi, terimakasih untuk refreshing singkatnya :D
- Kakak Dyna, Kakak Ninim, dan Kak Lita yang sudah menjawab pertanyaan, meredakan kegalauan, meminjamkan skripsi dan PPT untuk sidang skripsi, kata terimakasih nggak cukup untuk membalas kebaikan hati kakak-kakak, kayaknya :") Terimakasih untuk Koko yang udah telepon sore-sore macem sales asuransi untuk mengucapkan selamat, terimakasih untuk kakak-kakak BKK lainnya yang sudah menyemangati juga :D Teman-teman BKK 2012, yang selalu mendukung dan mendoakan kami di manapun, juga yang sudah membantu kami saat sidang, memberi cemilan, apapun bentuk dukungan kalian, terimakasih. Untuk BKK 2013 dan Fray yang udah pindah planet untuk mendukung, terimakasih untuk dukungan doanya, juga kepada BKK 2014 dan 2015, terimakasih untuk dukungan dan semangatnya di socmed maupun ketika bertemu langsung.
- Untuk Lady, teman pertamaku yang ketemu pas daftar ulang pas baru jadi camaba :") terimakasih buat doanya, terimakasih udah dateng serta ngasih coklat pas sidang, semoga sukses juga sidangnya ya :") Untuk Anggita, teman empat tahun yang tidak pernah foto bersama, terimakasih udah menyemangati dan udah ngasih liat PPT-nya :") Untuk Sella, selamat udah jadi sarjana arsitektur! Thanks udah dateng dan ngasih coklat juga dan maaf gak bisa dateng pas lu sidang, besok-besok kita ketemu lagi yaa :) Untuk Afung, yang udah nyemangatin, sukses juga sidangnya :)
- Untuk teman-teman PO FIB UI yang tidak bisa disebutkan satu-satu, terimakasih sudah mendukung dalam doa dan menyemangati, untuk TKK dan PKK-ku, terimakasih doa dan semangatnya serta sharingnya :)
- Untuk Anisa yang juga sudah menyemangati, Gaby yang lupa gue kabari bakal sidang, Dila dan Indri, semoga kalian baik-baik. Untuk dia yang sudah membantu membuat slide untuk presentasi, mendengarkan latihan presentasi, ngasih saran, menjadi teman berdoa, dan memberi semangat. Sukses sidangnya yap! Untuk Nathan, sepupu yang menjadi teman diskusi mainstream maupun anti-mainstream, thanks for your pray, bro. Untuk teman-teman pelayanan SM, terimakasih atas pengertiannya.
- Kepada pihak-pihak lain yang membantu gue dalam doa dan gue mungkin tidak tahu, orang terkasih, terdekat ataupun dekat namun jauh (?),saya menuliskan ini untuk kalian dan berterimakasih, semoga Tuhan membalas kebaikan hati kalian. Saya menuliskan ini bukan berdasarkan urutan siapa yang paling berarti, kalian sama berartinya buat saya #ciegitu. Terutama saya mengucap syukur kepada DIA, Pencipta yang setia :)
![]() |
| Hari pertama: 13 Juni 2016 |
![]() |
| Foto ala-ala kloter pertama |
![]() |
| Sumringahnya kloter kedua |
![]() |
| Ceria~ |
Setelah skripsi terbitlah revisi,
sampai jumpa, besok bertemu kembali.
Subscribe to:
Posts (Atom)



